Minggu, 13 Januari 2013

Ekonomi Global dan Resiko 2013

Oleh : Prof. Firmanzah., PhD, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Terintegrasinya ekonomi Indonesia dengan perekonomian global membuat kita perlu terus mewaspadai arahdan trend ekonomi global. Kebijakan yang cepat, tepat dan terukur untuk me-respons peluang dan tantangan global perlu terus kita lakukan. Beberapa waktul alu, perekonomian Indonesia relative berhasil memitigasi dampak negative krisis Sub-Prime Mortgage dan Krisis di Utang di Zona Eropa. Pada 2013, potensi ancaman krisis dunia masih tetap tinggi yang bersumber pada pemulihan krisis di Zona Eropa dan pelemahan ekonomi Amerika Serikat akibat program pengetatan belanja public dan kenaikan pajak.
Efek berantai ke-dua wilayah ini perlu kita antisipasi terhadap sejumlah kinerja ekonomi nasional terutama di sector perdagangan dan investasi. Sebenarnya pada 2012, perekonomian nasional telah menerima dampak atas pelemahan ekonomi global. Secara akumulatif Januari-November 2012, deficit Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) mencapai 1,33 miliar dollar AS dengan nilai impor mencapai 176.09 miliar dollar AS dan ekspor sebesar 174,76 miliar dollar AS. Strategi yang dilakukan seperti diversifikasi negara tujuan ekspor, import-substitution, hilirisasi dan industrialisasi akan terus dilakukan untuk lebih menyeimbangkan ekspor-impor Indonesia pada 2013. 

Selain itu juga, perubahan iklim dan cuaca ikut meningkatkan volatilitas harga pangan dunia. Pada beberapa waktu yang lalu, ekonomi Indonesia mendapatkan ujian dari meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan dunia seperti kedelai akibat tidak tercapainya target produksi negara penghasil utama. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini yaitu kekeringan yang terjadi di Amerika Serikat ditambah dengan aksi borong negara importer untuk mengamankan pasokan dalam negerinya. Resiko akan hal ini masih akan tetap tinggi mengingat unpredictabilityperubahan iklim dan cuaca pada 2013. Revitalisiasi lembaga stabilitas pangan Indonesia (BULOG) tengah disusun guna meningkatkan ruang gerak dalam mengantisipasi resiko akan halini.
Dari sisi keseimbangan fiscal dan belajar dari krisis yang terjadi di zona Eropa, maka defisit anggaran dan utang menjadi perhatian kita semua. Pemerintah akan tetap menjaga proporsi defisit/PDB Indonesia pada rentan yang aman. Pemerintah dan DPR telah menyepakati defisit anggaran terhadap PDB pada 2013 sebesar 1.65 persen dan dibawah rule of thumb standar aman sebesar 3 persen. Sementara rasio utang terhadap PDB berada pada lebel 25 persen. Proporsi ini perlu terus kita jaga dan pertahankan untuk menciptakan fundamental ekonomi yang semakin kuat. Sekaligus juga sebagai antisipasi terhadap setiap external-shock kepada kesehatan belanja dan fiskal Indonesia pada 2013.
Selain itu, potensi destabilitas kawasan terkait dengan konflik kepulauan Senkaku/Diaoyu antara dua kekuatan ekonomi terbesar Asia yaitu Jepang dan China menciptakan kekhawatiran baru. Konflik terbuka antara kedua negara sangat dikhawatirkan mengganggu kinerja ekonomi kawasan dan juga Indonesia. Tanpa adanya solusi diplomasi dan meruncingnya konflik akan mengganggu investasi, perdagangan dan jalur transportasi antar negara-wilayah dalam kawasan Asia Pasifik. Peran aktif Indonesia dan negara lain untuk ikut meredakan ketegangan antara kedua negara tersebut sangat diperlukan agar tidak menjadi sumber krisis baru di kawasan Asia.
Tantangan ekonomi global membutuhkan kesiapan kita bersama untuk membuat kebijakan dan strategi antisipatif. Pemerintah akan terus memonitor dan mempersiapkan langkah-langkah antisipatif-kebijakan untuk memitigasi setiap potensi resiko ancaman eksternal. Diharapkan semangat Indonesia-Incorporated seperti yang telah kita lakukan selama ini dapat meminimalisir resiko ekonomi global. Sehingga kita dapat mencapai target-target pembangunan baik yang tertuang dalam RPJP, RPJM dan ausmsi APBN 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar